Kudengar Namaku

22 Desember.
Tau dong hari apa ini? Setiap tanggal ini biasanya kita orang Indonesia merayakan hari Ibu setiap tahunnya.
Saya sih kurang tau pasti asal muasal hari Ibu ini, tapi yang saya tau ini hari ibu nasional se Indonesia aja.
Yang pasti hari ini terasa sekali betapa hebohnya orang- orang akan hari ini. Bahkan ada yang sms saya khusus untuk bertanya kapan sih sebenernya hari Ibu itu, karena dia sedih lupa hari Ibu kapan yang disangkanya telah berlalu.
Saya sih entah kenapa dari tiap tahunnya gak pernah sekalipun mengucapkan selamat hari Ibu ke mama saya
Bahkan sampai saat ini saya belum sekalipun mengucapkannya ke mama. Bukannya hubungan ibu dan anak diantara kami gak baik sih, tapi saya merasa masih kurang sakral arti sebuah hari ibu dibanding hari ulang tahun mama saya sendiri. Hari ibu bolehlah penting, tapi hari ulang tahun mama saya tetap yang paling wajib untuk diucapkan selamat nya. Tahun ini memang yang terburuk dalam sejarah tentang hal itu, karena saya nyaris melupakan ritual ucapan selamat ulang taun itu, terpaut 3 jam dari pergantian hari ulang tahun mama.
Kembali ke kehebohan hari ibu di hari ini, pagi- pagi buka twitter timeline udah mulai pada bertebaran ucapan selamat hari ibu. Bahkan, sejak jam 11 malam tanggal 22 nya pun sudah ada yang nge tweet selamat hari ibu. Yang saya pikirkan, apa iya semua yang sibuk tweet nge tweet itu bener- bener merayakan hari ibu. Hmmm, maksud saya dengan 'merayakan' itu adalah mengucapkan, atau memberi kado, atau mungkin ada 'ritual' anak-ibu bersama. Entahlah apa emang akhirnya disampaikan beneran ke ibunya masing- masing atau hanya sekedar tweet penghias linimasa nya aja biar update dengan topik terbaru.
Saya dan mama, seberapa uniknya hubungan kami mungkin tak terlalu menjadi sebuah keanehan bagi orang lain. Mungkin kami memang terlalu gengsi untuk saling menyampaikan kalimat sayang kami masing- masing, tak pernah mengucapkan segala rasa sayangnya, namun tetap terasa sekali untukku. Kasihnya luar biasa! Bahkan di jarak yang terjauh ini pun, setelah 17 tahun tinggal bersamanya, saya harus pergi jauh merantau aku merasa justru kali ini adalah momen dimana kami merasa amatlah dekat. Saya baru merasa betapa penting arti keberadaannya selama ini ketika mulai hidup nge- kos dan tiba-tiba begitu bete nya karena pulang kuliah harus usaha ekstra lagi untuk bisa beli makan ke warung, harus belanja keperluan sendiri, mengerjakan tugas tepat waktu, tidur ga larut malam biar besoknya gak kesiangan mesti usaha lagi supaya kamarnya tetap rapi, dan masih belum berhasil sih hingga sekarang. Sementara dulu nih, semuanya sudah diatur sama manajer, Mama.
Bahkan kasihnya begitu nyata ketika ia menyatakan akan segera menyusulku ke Solo baru- baru ini begitu tahu saya jatuh dari motor dan gak bisa jalan setidaknya untuk 2 minggu. Bukan sekali ini aja, satu bulan yang lalu ketika saya cacar (ya, double attacks untuk 2 bulan ini!) mama juga mau nyusul ke Solo jika keadaanku tak kunjung membaik. Puji Tuhan, begitu mama bilang pengen ke Solo untuk merawaktu, besoknya keadaanku membaik. Mungkin karena doanya, manjur luar biasa atau karena efek senang karena ada yang ngurus, jadi saya semangat sekali untuk sembuh, yang pasti saya tak pernah tahan untuk berdiam diri terlalu lama.
Dia memang manajer terbaikku, anti ngeluh, tak pernah cengeng, bahkan cenderung keras untuk bisa mempersiapkan anak- anaknya menghadapi dunia yang ternyata tak seindah bayangan masa kecil dulu.
Adalah saat yang paling luar biasa ketika saya mendengar mama (dan bapak tentunya) mengantar kepulanganku ke Solo, melalui sebuah doa. Kami duduk melingkar bersama berempat dengan adikku. Menundukkan kepala, khusyuk mengucapkan doa. Mama menyebut namaku, di dalam doanya yang singkat. Memohon kepada Tuhan, supaya melindungi ku di perjalanan dan juga aktivitas kuliahku saat berada jauh darinya. Indah sekali, ia menyebut namaku dalam permohonannya kepada Tuhan...
Di waktu ku kecil gembira dan senang
Tiada duka kukenal tak kunjung mengerang
Disore hari nan sepi ibuku terbelut
Sujud berdoa ku dengar namaku disebut

Di doa ibuku namaku disebut
Di doa ibuku kudengar ada namaku disebut

Sering ini kukenang di masa yang berat
Di kala hidup mendesak dan nyaris kutersesat
Melintas gambar ibuku, sewaktu bertelut
Kembali sayup kudengar namaku disebut

Di sore hari nan sepi ibuku bertelut
Sujud berdoa ku dengar namaku disebut
Di doa ibuku, namaku disebut
Di doa ibuku dengar ada namaku disebut
Ada namaku disebut

Comments

Popular