Tuesday, September 13, 2011

Tamasya ke Tukang Jahit




“mpok, lu punya waktu ga sore ntar, ini kain ane baru diambil. -,-

Nanti ane beliin walls buavita kiwi deh *ngerayu, help"


Bermula dari sms tadi yang dateng dari si Amilia yang nongol siang- siang itu, dan sembari tergoda juga dengan bujuk rayu walls buavita yang baru (hahaa) akhirnya saya terima tantangannya untuk berterik- terik ria di jalanan kota Solo, berangkat ke tukang jahit akhirnya.

Sampai di tukang jahit, dikeluarkannya lah bungkusan yang sedari tadi didekapnya erat- erat. Dan ternyata JENGG JEEENG JEEEENNGGG

Bungkusannya berisi 2 blazer yang bakal dipermak dan 2 x 4 meter bahan polosan yang bakal dibuat gamis. Jadi judulnya ini adalah jahitan yang mentok deadlinenya. Bayangkan saja si ibu penjahit, mesti ngejahit pesanan kami (saya, Momo, Amilia) sebanyak 2 rok, 2 gamis, dan 5 blazer untuk dipermak, parahnya lagi si ibu kita kasih deadline 4 hari, Sabtu 17 September udah harus jadi itu pakaian semuanya.

Yah terlepas dari gimana jungkir baliknya si ibu ngerjain pesenan kita -para ibu- ibu PKK ini- (buat kalian yang gak tau PKK, pak RT setempat pasti tau deh kalo kamu tanya), saya yakin setidaknya ibu penjahit itu tambah bahagia karena orderan nya banyak yang tentu berbanding lurus dengan income nya nanti. Selamat berkarya ya buuuu J

Pulang dari daerah Pasar Kliwon, daerah nya si ibu penjahit tadi, saya dan Amilia memutuskan untuk makan sore dulu. (Istilah makan sore muncul untuk makan malem yang terlalu dini dilakukan. Demikian.) Awalnya mau makan di daerah pasar Kliwon juga, tapi berhubung yang ada di sana makanannya nggak jauh-jauh dari kambing, sate kambing, sate buntel, dan sodara-sodara si kambing lainnya, akhirnya kami geser perjalanan kuliner hari ini ke daerah Lojiwetan. Kita makan di Strawberry.

Amil (@MeAmy) dan meja nomer 7 nya. Lha saya?

Lantas sebagian dari kalian mungkin bertanya- tanya tentang nasibnya si Walls Buavita? Nah si Walls Buavita itu digantikan posisi traktirannya dengan nasi goreng ala Strawberry serta ditemani dengan segelas teh manis hangat . Thanks to Amil deh :*

Ini diaaa nasi goreng dan teh hangat saya yang Oke

Nah si Amil mesennya Fuyung Hai (plus nasi putih) dan jus melon. Dan demikianlah sekelumit perjuangan kami para ibu- ibu PKK ini di hari Selasa yang cerah ini. Setelah memesan makanan dengan sedemikiannya, ternyata kami kekenyangan, dan kali ini saya berperan (lagi) sebagai tong sampahnya. Untungnya, selama beberapa hari ini lambung saya telah sukses dilatih untuk mengecil, jadinya makanan rekan saya tersebut tidak jadi habis saya lahap.


Fuyunghai nya Amil yang akhirnya dihibahkan ke saya

Diiringi hujan rintik- rintik yang syahdu dan teriknya mentari sore, saya kembali ke kost tercinta setelah memutar otak untuk mencari model yang the most kece of the earth.


Salam,

Hanna Siahaan

No comments:

Post a Comment