Thursday, September 1, 2011

Saya dan Si Nona Ungu

Adalah sebuah kisah tentang persahabatan saya dan seseorang.
So, let me introduce her. Namanya Greta Marthauli Manurung.
Dan saya Siahaan, nampaknya memang Siahaan dan Manurung itu partner klop kemana-mana. dan mungkin nama kami akan nampak seperti nama bapak- bapak yang suka nongkrong di lapo (warung Batak ,-red). Tapi sori sori jek, generasi muda Batak sekarang nampaknya lebih suka bergaul di mall.
And, here we are!
Liburan Lebaran (asik banget bunyinya) kemaren, saya dan Greta selayaknya teman lama berjanji bertemu di Mall Kelapa Gading, di suatu sudut kota Jakarta Utara.
waktu itu lagi hari nya Idul Fitri, pokoknya Jakarta sedang dalam keadaan total maksimal tingkat lengangnya.
Sembari menikmati indahnya kota Jakarta yang lengang, saya berangkat ke MKG.
Target awal saya dan Greta adalah untuk nonton 2 film sampe sore, kemudian makan dan sembari cucusapi (curhat curhat sampe pingsan). Namun, akibat ulah kwetiau goreng yang dimasak oleh tante saya itu luar biasa enaknya, saya jadi terlalu konsentrasi makan kwetiau goreng sampai akhirnya janji ketemuan di mall nya jadi molor.
Untungnya, masih sempet (banget) buat nonton Kungfu Panda 2! Asolloley!
Dan mungkin karena waktu itu saya sambil sedikit mengarahkan Greta untuk nonton 1 film aja (demi penghematan dunia, kawan) jadinya ya udah gak ada film lain yang enak selain Kungfu Panda 2.
Selesai nonton si Panda yanggendut-lucu dan babi-babi terbang lainnya itu, saya dan Greta makan di sebuah restoran Jepang. Sekali lagi, entah Greta ngerasa atau tidak, tapi saya mengarahkan dia untuk ikutan makan mie ramen.
Sejak berbulan- bulan lalu ketika di Solo, saya memang sudah pengen banget makan ramen. Dan alhasil baru kesampean setelah di Jakarta.
Sesi cucusapi pun terjadi. Sebenarnya, setiap saya akan ketemu Greta, saya selalu paham akan terjadi sesi curhat- curhatan yang panjang kali lebar diantara kami. Dari rumah, saya sebenarnya juga sudah berniat untuk tidak cerita- cerita lagi tentang seseorang yang notabene menjadi 'kisah-yang-pasti-saya-ceritakan-dengan-Greta'.
Ada 3 alasan untuk itu:
1. saya tak mau mengingat orangnya #tsaah percayalah, tak ada dendam disini
2, saya tau, masalah Greta selalu lebih gawat :p
3. kalau saya mau galau, maka Greta yang lebih pantes galau (mungkin demikian pikirnya, hehe)

Mengenal Greta dan berteman dengannya selama lebih dari 4 tahun, terkadang membuat mulut dan hati saya tak sinkron. Alhasil, meluncur lah dengan tak terkontrol nya cerita tentang banyak hal yang sebenernya sumpah-gak- penting-abis dari saya dan tentang-orang-yang-tak-mau-diceritakan-tadi-tapi-terlanjur-cerita Gimana akhirnya saya bisa cerita? Itu semua gara- gara tiba- tiba orangnya sms. Dan dia memang tipe orang yang selalu tau aja kalo lagi diomongin.

Keengganan saya bercerita tentang masalah dan kegalauan hidup (meski gue jarang banget galau, itu juga kalau kalian pada mau percaya) saya ke Greta, sebenarnya simpel. Cuma karena saya tau ga etis aja kalo saya cerita dengan berapi- apinya tentang masalah saya sementara saya tau dan paham betul kalo lawan bicara saya sesungguhnya punya masalah yang bahkan lebih besar daripada masalah saya. Ibaratnya, masalahku cuma lokalan Indonesia, dia sudah di level Asia, yang mana level Indonesia mah sudah lewat. Ya, seperti makan maicih, ada level 5, level 10, bahkan level 11. Oke, skip. fokus.

Saya dan Greta dengan indahnya pernah dipertemukan sekali waktu untuk pertama kalinya dulu, di Rumah Tuhan, di Gereja kami, HKBP Kernolong, saat kami sedang menjalani proses peneguhan iman, bukti kedewasaan kami. Dan hingga sekarang, sejak saya dan teman- teman lainnya demikian pula Greta, masih memegang teguh janji (kepada Tuhan) itu, hanya beberapa dari kami saja yang masih selalu berkumpul untuk mengakrabkan diri kembali.

Then Greta thank you for being friend of mine :)
*entah bahasa inggrisnya ngaco apa maknanya ga dapet, pokoknya makasih!*

Saya dan Greta setelah makan ramen dengan bar bar nya 

Salam- salaman,

Hanna Siahaan

No comments:

Post a Comment