Merenda Persatuan dalam Pluralitas


"Salahkah Kita Berbeda?"

Terinspirasi dari judul sebuah tulisan di Majalah Suara HKBP edisi Mei 2011. Cukup membaca judulnya saya sudah dibuat berpikir. Ga sulit untuk mencerna maknanya memang, tapi dari situ saya dipaksa untuk berpikir. Dan pada akhirnya saya menyimpulkan sendiri, bahwa Tuhan memang menciptakan manusia dengan perbedaan mendasar yang ada pada diri mereka masing- masing. Bukankah perbedaan itu sendiri ada untuk menciptakan keberagaman yang indah dalam kehidupan kita? Dengan adanya perbedaan hidup ini tentu akan terasa lebih berwarna.

Perbedaan dapat membangun sebuah keberagaman yang indah di dalam kehidupan. Setiap individu yang merupakan bagian dari masyarakat hendaknya menjaga keberagaman itu agar dapat tercipta sebuah kebersamaan yang solid diantara individu- individu yang unik. Perbedaan tidak hanya soal agama, bukan hanya masalah SARA (suku, agama, dan ras), tidak juga hanya seputar jenis kelamin maupun gender, tapi keseluruhan kata sifat maupun ideologi hidup yang bisa membedakan kita dengan orang lain.

Tenggang rasa yang besar perlu dimiliki oleh setiap orang untuk bisa hidup dengan pluralitas yang melingkupinya. Terutama di Indonesia, negara yang katanya paling plural di antara suku bangsa negara lainnya. Setidaknya saya dibuat sadar dan bersyukur tinggal di Jakarta dimana kaum urban pada ngumpul di ibukota, bersyukur juga pernah sekolah di swasta berbasis keagamaan dan sekolah di negeri. Bersyukur karena setidaknya dengan mencicipi beragam jenis pluralitas saya bisa belajar bertenggang rasa sedikit demi sedikit. Bertemu banyak orang, dengan karakter dan latar belakang yang berbeda- beda mau tak mau membuat saya harus bisa memahami mereka satu persatu, setidaknya itulah cara untuk bisa dekat dengan seseorang bukan?

Dengan menghargai sebuah kemajemukan di dalam kehidupan bersosial kita, saya yakin kelak dalam prosesnya membangun sebuah sifat kebangsaan yang kuat, Indonesia akan mampu mendirikan sebuah negara yang bebas diskriminasi dan penuh toleransi.





Jadi, masihkah kita salah jika kita berbeda?

Salam,

Hanna Suryadika

Comments

Popular