Tuesday, February 13, 2018

Menjalani Impian

0

"Han, lagi sibuk apa sih?"

Banyaaak sekali pertanyaan seperti ini, serupa dan sejenis, yang menghampiri saya belakangan ini. Pertanyaan yang memang nggak salah sih ditanyakan. Cuma emang agak sensitif ditanyain dulu waktu baru kelar tugas di daerah. Rasanya mau break dulu dari kerja, liburan dulu. Eh lha society udah repot aja nanyain. (((Society)))
Tapi tenang, untungnya, hidup saya masih lebih jumpalitan di 2015, masa tunggu sejak lulus kuliah ke dapet kerja agak lama, padahal mah waktu itu ada yang digarap juga, cuma ga semua orang tau aja.
Wajar- wajar aja sih sebenarnya pertanyaan begitu, meski saya sempet sensi ditanyain, karena memang setahun terakhir kemarin saya abis menarik diri dari peradaban, jadi guru SD di daerah 3T.

          

Jadi kalau saya jawab sih sekarang, jawabannya begini: "Lagi sibuk menjalani impian nih. Menjalani hidup sesuai yang aku impikan."


Sadisss banget yekan. Hahaha maap.
Tapi di luar itu, beneran deh sekarang saya lebih selektif semenjak pulang dari Natuna. Bongkar ulang, re-planning the future. Fokus ke target. Targetnya apa? Ada, banyak. Salah satu target terdekat adalah kuliah lagi, di Inggris. Target yang deket banget meski ngga mudah memang mewujudkannya. Target selanjutnya pun masih banyak: keliling Indonesia, punya lensa baru, nulis buku (semoga tahun ini launching), menang lomba nulis atau foto, hidup sehat mulai 2018, lebih hemat dan bijaksana saat mengeluarkan uang, bisa berbuat hal yang nyata juga untuk pendidikan daerah (panjang cerita dan memang panjang jalannya untuk ini).

Hal terdekat yang sudah terealisasi adalah dengan membuat dapur ngebul kembali. Asiikk :))
Jadi sesungguhnya, semenjak kerja di Blok M 2 tahun lalu, saya kok agak gimana gitu sama perjuangannya ke Blok M. Iya tau, Cempaka Putih- Blok M emang ga jauh- jauh banget. 19 km ajah emang, bisa naik Trans Jakarta, atau ojek online cuma 20 ribuan emang. Tapi untuk jam kerja yang fleksibel banget rasanya agak watir juga.
Makanya,


Well, I'll keep this story later. Akhirnya saya punya impian, untuk kerja di sekitaran Cempaka Putih aja ah. Lha tapi di Cempaka Putih ngga ada kantor yang cihuy! Akhirnya mulailah memperluas zona nyaman, eh nyaman juga nih sekiranya ngantor di Monas atau sekitaran jalan Medan Merdeka gitu. Ga cuma di situ aja, dulu waktu masih di private sector mikir kok kayaknya seru cobain tantangan kerja di government, bagian public policy kan yang pegang government dan memang ngaruhnya sih ke private sector yang waktu itu jadi ranah kerja saya. Tapi kemudian Tuhan berkata lain ya kan. Saya mencicipi kerja dulu di education sector tapi jalannya melalui sebuah NGO (non government organizations).

Sesudahnya barulah tunai tugas saya di daerah, saya off bekerja di Januari 2018. Eh Februari 2018, Puji Tuhan, rezeki dapur ngebul nyangkut! Hahaa. Kerja lah di government per Februari. Btw kerja ini pun saya yakini sepenuh hati bahwa ngga semua pekerjaan itu semata materi dan karir. Tapi satu hal: membuat pikiran tetap berpikir. Ini yang amat saya perlukan dari bekerja. Dan lagi yang saya syukuri, sejak 2015 berarti saya sudah berkarya di 3 sector: private, NGO, dan government. Well, not to mention that I'm good at this, but I'll try my best to keep up the good of life. Yak pokoknya begitulah, undescribable.

             

Saya nulis ini bukan untuk pamer, lha ngapain juga karena masih bukan siapa- siapa. Karena sejauh ini saya masih mencoba menjadi person yang peduli pada mimpinya sendiri. Saya dulu adalah orang yang suka meniadakan ego saya, suka lupa kalo diri sendiri pun perlu diperhatikan. Ya gitu deh.  Tapi thanks to Indonesia Mengajar, sejak setahun lalu saya belajar untuk lebih mengenal diri saya sendiri. Mengetahui apa yang kamu mau dan kamu senangi itu penting. Sejak saat itu saya tulis semua mimpi saya yang pernah tercetus dan belum terwujud. "Ya tulis aja dulu, kali aja semesta mendukung dan bisa mewujudkan banyak keinginan saya ini," gitu pikir saya waktu itu. Pun awal tahun 2018 ini saya nulis lagi resolusi baru dan yang lama yang belum terwujud.

Sekali lagi demi...ya kali aja Tuhan sedang bermurah hati mewujudkan keinginan hambaNya yang suka lupa diri ini. 2016- 2017 adalah salah satu masa dalam hidup yang rasanya saya nggak perlu minta apa- apa lagi sama Yang Kuasa. Semua wishlist utama saya hampir terpenuhi. Saya sampai sempat takut akan menghabiskan "jatah keberuntungan" saya di tahun itu.

Tapi semoga tahun 2018 ini lebih grande lagi kejutan- kejutan manisnya :)
Dan tahun 2018 ini saya masih berusaha untuk tetap di jalur hidup sebagai seorang Hanna yang sesungguhnya. I made my own rule in my life. Jadi sekarang, izinkan saya menjawab pertanyaan itu dengan yakin: "Saya sedang hidup dan menjalani mimpi- mimpi saya dari dulu."

So, follow your life path, make your own rules in your own life, not people's.

Regards,
HS.

*Btw meme buibuk yang kocak dan nyeni banget ini didapat dari akun FB Page terngehits: Qasidah Memes for all Occasions. Love banget deh! ❤❤❤

Friday, February 9, 2018

Program Mudik Gratis Kemenhub: Solusi Nyaman Pulang Kampung

0

Mudik adalah sebuah ritual unik yang terjadi di Indonesia, terlebih puluhan juta
masyarakat turut melakukan kegiatan ini. Dari data jumlah pemudik Lebaran 2017 yang dirilis
oleh Kemenhub, total 20 juta pemudik atau naik sekitar 2,5% dari tahun sebelumnya. Jawa
Tengah dan Jawa Timur adalah 2 contoh daerah tujuan yang sering dikunjungi pemudik.

Penuhnya jalanan antar provinsi yang seringkali berujung kemacetan panjang. Para
pemudik menggunakan beragam moda transportasi untuk dapat pulang ke kampung
halamannya. Mulai dari transportasi umum seperti kereta, pesawat, bis, hingga kendaraan
pribadi yang mereka kendarai hingga kampung halaman. Pada 2017, angka pemudik dengan
menggunakan kendaraan pribadi khususnya sepeda motor meningkat 18% atau sejumlah 6 juta
pemudik motor. Padahal penggunaan sepeda motor jarak jauh selain kurang nyaman pun
memiliki potensi kecelakaan lalu lintas yang cukup besar.

Ramainya pemudik tak hanya mengakibatkan macetnya jalanan, namun juga
meningkatkan resiko kecelakaan jalan raya saat. Banyaknya kendaraan pribadi yang sering
disalahgunakan seperti penggunaan sepeda motor untuk bepergian jarak jauh dengan bawaan
banyak serta mengangkut lebih dari 2 orang dapat mengancam keselamatan pengendara
lainnya. Merujuk data dari CNN Indonesia, pada mudik lebaran 2017 lalu ada kurang lebih 2.500
jumlah kecelakaan. Angka ini menurun 26 persen dibanding tahun 2016 akibat tindakan
preventif yang digencarkan oleh berbagai pihak.

Kemenhub misalnya, untuk mengantisipasi macet yang berkepanjangan serta rawannya
kecelakaan lalu lintas saat mudik, sejak lebih dari 5 tahun lalu mengadakan mudik gratis sebagai
salah satu solusi. Kemenhub bekerja sama dengan beberapa BUMN dan pihak swasta pada
Lebaran 2017 silam mengadakan Angkutan Sepeda Motor Gratis dan Mudik Gratis. Kemenhub
menyediakan angkutan sepeda motor menggunakan kereta api bagi warga yang ingin mudik
dan tetap membawa motornya ke kampung halaman. Selain itu, mudik gratis pun tetap
diadakan untuk tujuan beberapa kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Selain mendaftar langsung di Dishub wilayah Jabodetabek, Kemenhub pun
mempermudah calon pemudik untuk mendaftarkan dirinya dengan daftar online via situs
www.mudikgratis.dephub.go.id. Tak hanya via bis dan jalur darat, Kemenhub pun menyediakan
angkutan dengan kereta api, dan jalur laut dengan kapal penyeberangan. Tawaran mudik gratis
dari Kemenhub ini merupakan sebuah jalan keluar yang menarik. Pemudik ditawarkan pilihan
untuk lebih berhemat dengan program ini, motor pun tetap bisa dibawa pulang dan digunakan
saat di kampung halaman. Satu hal yang pasti, efisiensi waktu dan tenaga tentu lebih terasa
dengan ikut program mudik gratis ini. (Hanna Suryadika)

21 Januari 2018

Sumber:

Saturday, January 13, 2018

Tentang Hidup (Part 1): UJIAN KEHIDUPAN

0



Sesungguhnya hidup adalah perkara ujian.

Ujian kehidupan, ujian semester, ujian SIM, ujian nasional, ujian akhir, dan banyak lainnya. Kebetulam dalam seminggu terakhir ini saya baru saja melalui 2 ujian: ujian SIM dan ujian TPA. Yang pertama jelas untuk dapetin SIM. Sementara ujian TPA atau tes potensi akademik gunanya untuk persyaratan daftar beasiswa.

Ternyata bener lho untuk melalui sebuah ujian itu ternyata bukan proses yang cepat. Udahlah lama, melelahkan juga, menguras energi dan belom lagi emosi yang habis- habisan. Seperti ujian SIM saya beberapa minggu lalu. Harus ngumpulin syaratnya, ujian tulis tentang pengetahuan rambu dan jalanan. Itu pun belum tentu lulus, hasilnya pun memakan waktu berjam- jam untuk bisa jadi. Tapi begitu SIM nya jadi, seneng banget dong! Jadi bisa ke sana ke mari bawa kendaraan tanpa takut kena razia hehee. Atau singkatnya, kita usah tenang dan aman di jalanan, karena udah naik kelas untuk jadi pengguna jalan yang taat. Kalau sebelumnya sih pengguna jalan yang nggak taat, karena mondar mandir bawa kendaraan tapi kok SIM nya mati haha.

Belum lagi baru- baru ini harus ikut tes TPA di Bappenas. Iya saya ikut tes nya personal, swadana hehe. Hasilnya keluar 4 hari sesudah tes. Saya pakai hasil tesnya ceritanya untuk lanjut ikutan beasiswa S2. Eh lha kok nilainya kurang dikiitt haha. Memang belum nasib, mungkin harus coba lagi dan harus banget serius belajarnya nih.

Itu contoh tentang ujian yang simpelnya dalam kehidupan sehari- hari. Hal ujian ini juga yang paling sering jadi hal memorable buat saya mengingat proses setahun kemarin waktu jadi guru SD di Natuna. Bu Hanna nih doyan banget ngetes murid- muridnya. Ujian formal atau informal pokoknya kena uji aja deh tuh murid- murid saya. Tujuannya apa? Saya ingin memancing rasa penasaran mereka, supaya mereka tahu di mana kelemahannya. Mereka harus rajin belajar di bagian pelajaran yang mana. Supaya mereka juga kompetitif, siap bersaing dengan murid lainnya. Dan lagi, supaya mereka layak naik kelas dan jadi juara. Iya dong?

Setahun kemarin, saya banyak belajar. Dari mulai mencoba banyak hal baru sampai dihadapkan pada banyak ujian- ujian kehidupan yang remeh temeh sampe yang grande banget. Untung ujian yang grande ini ngga sampe bikin saya goyah atau galau berat. Rasanya 'cuma menguras energi habis- habisan aja'. Tapi abis itu dapetnya apa?

Ya Puji Tuhan, jadi lebih sabar menghadapi orang. Jadi tau bahwa sepayah- payahnya kita atau kadang saya suka minder banget orangnya, ternyata masih ada lho yang lebih susah dari kita atau maaf ya, kadang lebih payah dalam beberapa hal. Kisah seperti ini yang buat saya bersyukur dan harusnya makin giat lagi untuk berbagi dan peduli dengan yang di bawah kita. Sepayah- payahnya gue ternyata masih bisa lho ngasih manfaat buat orang banyak. Ternyata saya bisa melakukan banyak hal diluar dugaan saya sebelumnya. Nah pemikiran seperti inilah yang saya dapatkan dari hasil ujian kehidupan saya kemarin.

Jadi kalau ditanya: sudah siap untuk naik kelas?
Yes tentu! Saya siap untuk tantangan yang lebih besar. Siap untuk naik kelas!

Btw, ada yang punya cerita tentang ujian kehidupan yang lebih menarik? Sharing dong... :)

Rgds,
HS

Thursday, January 4, 2018

Satu Tahun Berlalu

0

"Time is non refundable. Use it with intention" -unknown
Mungkin benar, waktu itu adalah musuh bagi orang yang lagi cinta- cintanya. Dan ternyata saya pernah segila itu.
Satu tahun yang paling gila dan tentu saja super memorable terjadi di 2017.
Anyway, postingan ini belum terlalu akan mellow jelasin perpisahan saya di Setumuk dan Natuna. But, I'll do it next time.

Saya sudah tahu kapan akhir masa tugas saya saat itu: Desember 2017. Jadi kalau tiba- tiba bete dan hopeless, tinggal inget aja kapan waktu pulangnya. Makin mendekati waktu 10 bulan, mulai deh mempersiapkan yang kita namakan "Perpisahan Terindah".

Saya bahkan udah mulai download lagu untuk perpisahan di sekolah nanti, versi karaoke nya gitu. Saya udah niatin mau nyanyi All I Ask. Maakk, galau gile. Ini saya udah sibuk nyari lagu All I Ask dari bulan April doongg hahahaa..
Tapi waktu itu kepikirannya buat lagu perpisahan anak kelas VI yang mau lulus.

Meski pada akhirnya saya berhasil nyanyi Samsons- Kenangan Terindah, dan tentu saja lagu Stinky- Mungkinkah. Inilah lagu perpisahan yang galau abissss yang berhasil saya nyanyikan di depan tamu dana murid- murid waktu perpisahan. Bapaak oyy! Hahahaa.


Sumpah saya ngga galau pas nyanyiin ini. Cuma pengen bilang sama murid- murid saya, Ibu udah latihan nyanyi ini, suaranya lumayan ya tapi ini semua demi kalian Ibu mau nyanyi :")

Kalau ga karena request mah bye. Saya cukup sadar suara saya.
Satu tahun berlalu, banyak yang terjadi. Perubahan terjadi. Entah meningkat atau menurun.
Cinta dan bahagia terjadi.
Cerita sedih terjadi.
Kisah bangga terjadi.
Terinspirasi dari orang lain pun sudah terjadi.
Satu tahun berlalu, perpisahan pun terjadi.

Saya jadi ingat dulu salah satu video dari Indonesia Mengajar atau tepatnya tim komsos pas rekrutmen PM XIII, pernah bilang gini: Satu tahun di pedalaman sana adalah satu tahun paling berharga. Sudah siap?

Saya sudah menjawab tantangan ini setahun lalu.
Siap nggak siap, saya berangkat.
Tapi toh nyatanya saya mempersiapkan keberangkatan saya ke Natuna dengan cukup baik. Pun demikian saat mau kembali ke Jakarta lagi saat purna tugas, saya siap. Meski separuh hati saya belum siap kalau sewaktu- waktu galau inget murid- murid di sana.

Bapak oyy, nak sebulan ni ibuk bolek kampung, rase hati ni lah piwang benu lah sama awak awak ni. 

Ayo dong yang cowok- cowoknya foto juga! 
Salam dari Buk Hanna yang ga usah ditanya terus tiap hari apa ibuk kangen atau ngga. Kangen oy!

Jakarta dini hari, 4 Jan 2018.

-HS-

Monday, October 2, 2017

PEMBELAJARAN YANG BERFOKUS PADA SISWA DI DAERAH 3T

0

Dunia pendidikan Indonesia penuh dengan tantangan dan juga peluang. Keduanya bak koin yang memiliki dua sisi, baik dan buruk. Di tengah ramainya globalisasi yang digaungkan, dunia pendidikan seakan berlari mengejar kebutuhan dunia yang sedang berkembang. Semua hal kini terkoneksi, sudut- sudut dunia seakan menipis dan saling berhubungan di masa ini. Dunia pendidikan di Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk mempersiapkan anak didik menjadi individu yang kompetitif tidak hanya di lingkup negeri sendiri bahkan hingga bersaing di tingkat global.

Salah satu agenda prioritas dalam pemerintahan Indonesia era Joko Widodo saat ini adalah membangun Indonesia dari pinggiran dengan jalan memperkuat daerah- daerah dan desa. Agenda ini jelas tertuang dalam Nawacita poin ketiga, yang intinya adalah pemerataan pembangunan hingga ke daerah- daerah perbatasan.

Pembangunan pada daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) pada hakikatnya terbagi menjadi 3 jenis pendekatan yaitu pendekatan keamanan, pendekatan kesejahteraan, dan pendekatan investasi. Pendidikan adalah salah satu cara yang dapat membangun Indonesia dari daerah dan termasuk dalam pendekatan kesejahteraan. Pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia dan juga alat untuk menaikkan derajat hidup seseorang. Kehidupan seorang anak kelak dapat sejahtera, jika semakin layak pendidikan yang diperolehnya maka semakin besar peluangnya untuk hidup sejahtera di masa mendatang.

Pada dasarnya pendidikan di daerah pun bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; senada dengan bunyi UUD 1945. Tidak boleh ada perbedaan yang mencolok antara pendidikan di kota besar maupun di daerah, terlebih daerah 3T. Dalam hal ini, pemerintah sudah berupaya sedapat mungkin untuk menggalakkan mutu pendidikan di daerah 3T maupun pemerataan akses pendidikan sehingga anak- anak daerah dapat menerima pendidikan yang layak.

Sayangnya di tengah gencarnya pemerintah menggalakkan giat belajar dan mendukung proses belajar di Indonesia dengan dana yang tak sedikit, rupanya pendidikan masih dirasa belum merata.  Proses belajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) misalnya, masih ada beberapa tantangan dalam pelaksanaan pendidikan khususnya dalam hal geografis. Sebut saja mulai dari terbatasnya informasi dan kesempatan belajar akibat akses transportasi, kurangnya dukungan orang tua, hingga tantangan komunikasi yang terkendala keterbatasan sinyal telepon, apalagi dengan tiadanya internet. Hal mendasar seperti ini terkadang membawa permasalahan di daerah 3T menjadi lebih kompleks lagi yaitu  tidak meratanya akses pendidikan bagi anak- anak di daerah 3T.

Di daerah mudah ditemui bahwa permasalahan pendidikan mayoritas disebabkan akibat terbatasnya akses transportasi sehingga memperkecil kemungkinan anak- anak untuk memperoleh pendidikan yang layak. Ditambah dukungan orang tua tak sepenuhnya didapat akibat sekolah hanyalah dipandang sebagai sebuah institusi yang harus dilalui tiap anak semata dalam prosesnya menuju dewasa. Padahal kurangnya dukungan orang tua dan masyarakat pada proses pembelajaran terbukti dapat menghambat kemajuan proses pembelajaran anak.

Bagi anak pulau –sebutan bagi anak- anak yang tinggal di pulau- pulau kecil di Kepulauan Riau- misalnya, untuk pergi ke sekolah sebagian anak pulau harus menyeberang dengan menggunakan kapal. Setelah pulang sekolah, siswa tidak dibimbing kembali untuk belajar di rumah. Padahal perjalanan panjang yang mereka tempuh setiap hari ke sekolah membutuhkan lebih dari sekadar ingatan untuk belajar. Selain itu, buku pelajaran maupun buku- buku penunjang pelajaran lain yang tersedia relevansinya sudah berkurang karena banyaknya buku terbitan lama, meski sebagian masih tersedia dan dapat digunakan.

Namun di tengah hidup yang penuh dengan keterbatasan ini, bukan berarti anak- anak daerah ini lantas tertinggal dan tidak mendapat perhatian sepenuhnya. Pendidikan sesungguhnya tak hanya berbatas ruang dan waktu. Pendidikan harusnya dapat tidak dapat dikotak- kotakkan apalagi dibatasi oleh berbagai kesulitan. Bagi daerah 3T, pembelajaran yang sesuai adalah pembelajaran yang berfokus pada siswa. Jenis pembelajaran ini bukanlah sebuah jenis proses belajar mengajar yang hanya terpaku pada guru maupun sarana prasana belajar, namun siswalah yang menjadi kunci pembelajaran. Dengan mengoptimalkan kemampuan siswa, maka potensi nalar dan emosinya dapat menghasilkan sebuah prestasi.

Jika saja sarana dan prasarana sulit untuk dipenuhi sesuai standar pembelajaran pada umumnya, maka pembelajaran di daerah 3T dapat mengoptimalkan alat bantu belajar yang tersedia di sekitar siswa. Mulai dari alat belajar yang ada di alam, yang setiap hari sudah akrab dan sering dilihat siswa maupun pemanfaatan alat- alat dari alam sebagai media belajar kreatif. Di sinilah dibutuhkan peran kuat hasil kerjasama antara siswa dan guru untuk menghasilkan sebuah proses belajar yang dinamis. Proses belajar dinamis tidak lagi menuntut guru sebagai subyek sentral pemberi ilmu; namun siswa juga harus diberi kesempatan untuk memahami materi oleh kesadarannya sendiri. Belakangan ini muncul istilah bahwa siswa tak lagi hanya sekedar murid, namun mulai disebut sebagai “pembelajar”, sehingga siswa merupakan subyek utama dalam proses belajar. Guru pun dapat belajar dari siswanya.

Oleh karena siswa adalah aktor utama dalam pembelajaran, maka siswa haruslah menyadari sepenuhnya bahwa belajar adalah proses yang menyenangkan dan asyik. Jika alam bawah sadar siswa sudah dapat menerima informasi seperti demikian, maka ia akan lebih mudah menangkap pesan yang disampaikan selama belajar. Proses belajar kreatif adalah salah satu hal yang dapat menstimulasi kesadaran tersebut. Selama belajar pun siswa harus aktif, guru adalah salah satu stimulator yang dapat membuat sebuah pembelajaran aktif. John Holt (1967) dalam buku “Active Learning” (Siberman, 1996) menyebutkan bahwa proses belajar akan semakin baik jika siswa diminta:
Mengungkapkan informasi dengan bahasa mereka sendiri
1. Memberikan contoh- contoh
2. Mengenalnya (materi belajar) dalam berbagai kondisi
3. Melihat hubungan antara satu fakta atau gagasan dengan yang lain
4. Menggunakannya dengan berbagai cara
5. Memperkirakan beberapa konsekuensinya
6. Mengungkapkan lawan atau kebalikannya.
Proses belajar aktif dan kreatif seperti di atas dapat membuat siswa merasakan bahwa dirinya adalah aktor penting. Kelak guru adalah fasilitator bagi siswa untuk memahami permasalahan dan pemecahan solusi dalam pembelajaran.

Meski demikian, perlu diingat lagi bahwa pembelajaran tak hanya terjadi antara siswa dan guru. Perlu adanya sinergi antara beberapa pihak seperti sekolah, pemerintah, orang tua dan masyarakat agar belajar dapat dihayati sebagai sebuah proses yang simultan dan berkelanjutan. Menciptakan masyarakat yang pembelajar adalah kunci dimana sebuah budaya harus dibangun agar siswa pun dapat didampingi oleh orang terdekatnya untuk proses belajar lanjutan sesudah dari sekolah. Pun masyarakat sekitar harus bersepakat untuk mengedepankan proses belajar dan pendidikan si anak. Pendidikan seyogyanya tak hanya tanggung jawab guru semata, melainkan kewajiban setiap orang yang terdidik.

Saturday, August 26, 2017

Sudahkah Pendidikan Kita Merdeka?

0


72 tahun Indonesia merdeka, namun seringkali kita mendengar bahwa sesungguhnya negeri kita tercinta ini belum sepenuhnya bebas dari belenggu penjajahan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia elektronik yang dirilis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, merdeka memiliki makna bebas dari perhambaan juga penjajahan, tidak bergantung pada orang atau pihak tertentu.

Tuesday, July 11, 2017

Thursday, June 29, 2017

Doa yang Sederhana

0

Jikalau memang doa memiliki batas, semoga saja kesadaranku adalah tembok yang cukup tangguh untuk terus meminta.
Seandainya dua memang harus tuntas, semoga saja itu tak pernah terjadi untukmu dan aku, ya, aku inginkan kita.
Kalau saja tanganku pernah letih terlipat saat syahdu memohon atasmu pada Sang Pencipta,
Semoga saja bibirku tak pernah henti memintamu, sama seperti ritual ratusan malam yang terdahulu.

Tuesday, June 6, 2017

Catatan Hati yang Malu- Malu

0

Bahwasanya benar bahwa kekaguman ini tak salah memilih orang. Hanya terkadang hati yang terlalu cepat memutuskan di pundak siapa ia akan rebah.
Maka untuk yang satu ini, kutahan ia sebisa mungkin untuk tetap ada di bilik kekaguman dahulu, memenuhi seluruh rongga dada. Sesak memang, ah tapi siapa rindu itu kalau kita belum pernah berkenalan secara nyata.

Wednesday, March 22, 2017

Perjalanan Panjang menjadi Pengajar Muda

0

Sungguh hati ini sudah tertambat sejak 2011 lalu saat ingin menjadi Pengajar Muda.
Saya lupa persisnya kenapa saya begitu tertarik, tapi saat itu saya membaca di koran nasional mengenai gerakan yang mengirimkan sarjana terbaik bangsa ke pelosok Indonesia. Mereka diberdayakan untuk mengajar di SD yang kekurangan tenaga pengajar sekaligus untuk menggerakkan masyarakat sekitarnya.
Saat itu saya belum ingin menjadi Pengajar Muda, sungguh mimpi itu seperti jauh bila ingin saya gapai. Saya merasa ini adalah sebuah program yang luar biasa, terlebih melihat semangat pengorbanan para Pengajar Muda saat itu.

Saturday, March 18, 2017

Catatan Seperempat Abad

0

Hari ini genap usia saya 25 tahun (padahal angkanya ganjil).
Dan saya merayakannya di salah satu pulau kecil Indonesia, gugusan kepulauan di Natuna.
Merayakan dalam hening, sepi, reflektif dan penuh mawas diri. Jauh dari keriuhan kota atau ramainya perayaan ulang tahun seperti pada umumnya. Biarlah, toh semakin tua kan kita semakin sering merayakan ulang tahun.