Saturday, January 13, 2018

Tentang Hidup (Part 1): UJIAN KEHIDUPAN

0



Sesungguhnya hidup adalah perkara ujian.

Ujian kehidupan, ujian semester, ujian SIM, ujian nasional, ujian akhir, dan banyak lainnya. Kebetulam dalam seminggu terakhir ini saya baru saja melalui 2 ujian: ujian SIM dan ujian TPA. Yang pertama jelas untuk dapetin SIM. Sementara ujian TPA atau tes potensi akademik gunanya untuk persyaratan daftar beasiswa.

Ternyata bener lho untuk melalui sebuah ujian itu ternyata bukan proses yang cepat. Udahlah lama, melelahkan juga, menguras energi dan belom lagi emosi yang habis- habisan. Seperti ujian SIM saya beberapa minggu lalu. Harus ngumpulin syaratnya, ujian tulis tentang pengetahuan rambu dan jalanan. Itu pun belum tentu lulus, hasilnya pun memakan waktu berjam- jam untuk bisa jadi. Tapi begitu SIM nya jadi, seneng banget dong! Jadi bisa ke sana ke mari bawa kendaraan tanpa takut kena razia hehee. Atau singkatnya, kita usah tenang dan aman di jalanan, karena udah naik kelas untuk jadi pengguna jalan yang taat. Kalau sebelumnya sih pengguna jalan yang nggak taat, karena mondar mandir bawa kendaraan tapi kok SIM nya mati haha.

Belum lagi baru- baru ini harus ikut tes TPA di Bappenas. Iya saya ikut tes nya personal, swadana hehe. Hasilnya keluar 4 hari sesudah tes. Saya pakai hasil tesnya ceritanya untuk lanjut ikutan beasiswa S2. Eh lha kok nilainya kurang dikiitt haha. Memang belum nasib, mungkin harus coba lagi dan harus banget serius belajarnya nih.

Itu contoh tentang ujian yang simpelnya dalam kehidupan sehari- hari. Hal ujian ini juga yang paling sering jadi hal memorable buat saya mengingat proses setahun kemarin waktu jadi guru SD di Natuna. Bu Hanna nih doyan banget ngetes murid- muridnya. Ujian formal atau informal pokoknya kena uji aja deh tuh murid- murid saya. Tujuannya apa? Saya ingin memancing rasa penasaran mereka, supaya mereka tahu di mana kelemahannya. Mereka harus rajin belajar di bagian pelajaran yang mana. Supaya mereka juga kompetitif, siap bersaing dengan murid lainnya. Dan lagi, supaya mereka layak naik kelas dan jadi juara. Iya dong?

Setahun kemarin, saya banyak belajar. Dari mulai mencoba banyak hal baru sampai dihadapkan pada banyak ujian- ujian kehidupan yang remeh temeh sampe yang grande banget. Untung ujian yang grande ini ngga sampe bikin saya goyah atau galau berat. Rasanya 'cuma menguras energi habis- habisan aja'. Tapi abis itu dapetnya apa?

Ya Puji Tuhan, jadi lebih sabar menghadapi orang. Jadi tau bahwa sepayah- payahnya kita atau kadang saya suka minder banget orangnya, ternyata masih ada lho yang lebih susah dari kita atau maaf ya, kadang lebih payah dalam beberapa hal. Kisah seperti ini yang buat saya bersyukur dan harusnya makin giat lagi untuk berbagi dan peduli dengan yang di bawah kita. Sepayah- payahnya gue ternyata masih bisa lho ngasih manfaat buat orang banyak. Ternyata saya bisa melakukan banyak hal diluar dugaan saya sebelumnya. Nah pemikiran seperti inilah yang saya dapatkan dari hasil ujian kehidupan saya kemarin.

Jadi kalau ditanya: sudah siap untuk naik kelas?
Yes tentu! Saya siap untuk tantangan yang lebih besar. Siap untuk naik kelas!

Btw, ada yang punya cerita tentang ujian kehidupan yang lebih menarik? Sharing dong... :)

Rgds,
HS

Thursday, January 4, 2018

Satu Tahun Berlalu

0

"Time is non refundable. Use it with intention" -unknown
Mungkin benar, waktu itu adalah musuh bagi orang yang lagi cinta- cintanya. Dan ternyata saya pernah segila itu.
Satu tahun yang paling gila dan tentu saja super memorable terjadi di 2017.
Anyway, postingan ini belum terlalu akan mellow jelasin perpisahan saya di Setumuk dan Natuna. But, I'll do it next time.

Saya sudah tahu kapan akhir masa tugas saya saat itu: Desember 2017. Jadi kalau tiba- tiba bete dan hopeless, tinggal inget aja kapan waktu pulangnya. Makin mendekati waktu 10 bulan, mulai deh mempersiapkan yang kita namakan "Perpisahan Terindah".

Saya bahkan udah mulai download lagu untuk perpisahan di sekolah nanti, versi karaoke nya gitu. Saya udah niatin mau nyanyi All I Ask. Maakk, galau gile. Ini saya udah sibuk nyari lagu All I Ask dari bulan April doongg hahahaa..
Tapi waktu itu kepikirannya buat lagu perpisahan anak kelas VI yang mau lulus.

Meski pada akhirnya saya berhasil nyanyi Samsons- Kenangan Terindah, dan tentu saja lagu Stinky- Mungkinkah. Inilah lagu perpisahan yang galau abissss yang berhasil saya nyanyikan di depan tamu dana murid- murid waktu perpisahan. Bapaak oyy! Hahahaa.


Sumpah saya ngga galau pas nyanyiin ini. Cuma pengen bilang sama murid- murid saya, Ibu udah latihan nyanyi ini, suaranya lumayan ya tapi ini semua demi kalian Ibu mau nyanyi :")

Kalau ga karena request mah bye. Saya cukup sadar suara saya.
Satu tahun berlalu, banyak yang terjadi. Perubahan terjadi. Entah meningkat atau menurun.
Cinta dan bahagia terjadi.
Cerita sedih terjadi.
Kisah bangga terjadi.
Terinspirasi dari orang lain pun sudah terjadi.
Satu tahun berlalu, perpisahan pun terjadi.

Saya jadi ingat dulu salah satu video dari Indonesia Mengajar atau tepatnya tim komsos pas rekrutmen PM XIII, pernah bilang gini: Satu tahun di pedalaman sana adalah satu tahun paling berharga. Sudah siap?

Saya sudah menjawab tantangan ini setahun lalu.
Siap nggak siap, saya berangkat.
Tapi toh nyatanya saya mempersiapkan keberangkatan saya ke Natuna dengan cukup baik. Pun demikian saat mau kembali ke Jakarta lagi saat purna tugas, saya siap. Meski separuh hati saya belum siap kalau sewaktu- waktu galau inget murid- murid di sana.

Bapak oyy, nak sebulan ni ibuk bolek kampung, rase hati ni lah piwang benu lah sama awak awak ni. 

Ayo dong yang cowok- cowoknya foto juga! 
Salam dari Buk Hanna yang ga usah ditanya terus tiap hari apa ibuk kangen atau ngga. Kangen oy!

Jakarta dini hari, 4 Jan 2018.

-HS-

Monday, October 2, 2017

PEMBELAJARAN YANG BERFOKUS PADA SISWA DI DAERAH 3T

0

Dunia pendidikan Indonesia penuh dengan tantangan dan juga peluang. Keduanya bak koin yang memiliki dua sisi, baik dan buruk. Di tengah ramainya globalisasi yang digaungkan, dunia pendidikan seakan berlari mengejar kebutuhan dunia yang sedang berkembang. Semua hal kini terkoneksi, sudut- sudut dunia seakan menipis dan saling berhubungan di masa ini. Dunia pendidikan di Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk mempersiapkan anak didik menjadi individu yang kompetitif tidak hanya di lingkup negeri sendiri bahkan hingga bersaing di tingkat global.

Salah satu agenda prioritas dalam pemerintahan Indonesia era Joko Widodo saat ini adalah membangun Indonesia dari pinggiran dengan jalan memperkuat daerah- daerah dan desa. Agenda ini jelas tertuang dalam Nawacita poin ketiga, yang intinya adalah pemerataan pembangunan hingga ke daerah- daerah perbatasan.

Pembangunan pada daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) pada hakikatnya terbagi menjadi 3 jenis pendekatan yaitu pendekatan keamanan, pendekatan kesejahteraan, dan pendekatan investasi. Pendidikan adalah salah satu cara yang dapat membangun Indonesia dari daerah dan termasuk dalam pendekatan kesejahteraan. Pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia dan juga alat untuk menaikkan derajat hidup seseorang. Kehidupan seorang anak kelak dapat sejahtera, jika semakin layak pendidikan yang diperolehnya maka semakin besar peluangnya untuk hidup sejahtera di masa mendatang.

Pada dasarnya pendidikan di daerah pun bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; senada dengan bunyi UUD 1945. Tidak boleh ada perbedaan yang mencolok antara pendidikan di kota besar maupun di daerah, terlebih daerah 3T. Dalam hal ini, pemerintah sudah berupaya sedapat mungkin untuk menggalakkan mutu pendidikan di daerah 3T maupun pemerataan akses pendidikan sehingga anak- anak daerah dapat menerima pendidikan yang layak.

Sayangnya di tengah gencarnya pemerintah menggalakkan giat belajar dan mendukung proses belajar di Indonesia dengan dana yang tak sedikit, rupanya pendidikan masih dirasa belum merata.  Proses belajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) misalnya, masih ada beberapa tantangan dalam pelaksanaan pendidikan khususnya dalam hal geografis. Sebut saja mulai dari terbatasnya informasi dan kesempatan belajar akibat akses transportasi, kurangnya dukungan orang tua, hingga tantangan komunikasi yang terkendala keterbatasan sinyal telepon, apalagi dengan tiadanya internet. Hal mendasar seperti ini terkadang membawa permasalahan di daerah 3T menjadi lebih kompleks lagi yaitu  tidak meratanya akses pendidikan bagi anak- anak di daerah 3T.

Di daerah mudah ditemui bahwa permasalahan pendidikan mayoritas disebabkan akibat terbatasnya akses transportasi sehingga memperkecil kemungkinan anak- anak untuk memperoleh pendidikan yang layak. Ditambah dukungan orang tua tak sepenuhnya didapat akibat sekolah hanyalah dipandang sebagai sebuah institusi yang harus dilalui tiap anak semata dalam prosesnya menuju dewasa. Padahal kurangnya dukungan orang tua dan masyarakat pada proses pembelajaran terbukti dapat menghambat kemajuan proses pembelajaran anak.

Bagi anak pulau –sebutan bagi anak- anak yang tinggal di pulau- pulau kecil di Kepulauan Riau- misalnya, untuk pergi ke sekolah sebagian anak pulau harus menyeberang dengan menggunakan kapal. Setelah pulang sekolah, siswa tidak dibimbing kembali untuk belajar di rumah. Padahal perjalanan panjang yang mereka tempuh setiap hari ke sekolah membutuhkan lebih dari sekadar ingatan untuk belajar. Selain itu, buku pelajaran maupun buku- buku penunjang pelajaran lain yang tersedia relevansinya sudah berkurang karena banyaknya buku terbitan lama, meski sebagian masih tersedia dan dapat digunakan.

Namun di tengah hidup yang penuh dengan keterbatasan ini, bukan berarti anak- anak daerah ini lantas tertinggal dan tidak mendapat perhatian sepenuhnya. Pendidikan sesungguhnya tak hanya berbatas ruang dan waktu. Pendidikan harusnya dapat tidak dapat dikotak- kotakkan apalagi dibatasi oleh berbagai kesulitan. Bagi daerah 3T, pembelajaran yang sesuai adalah pembelajaran yang berfokus pada siswa. Jenis pembelajaran ini bukanlah sebuah jenis proses belajar mengajar yang hanya terpaku pada guru maupun sarana prasana belajar, namun siswalah yang menjadi kunci pembelajaran. Dengan mengoptimalkan kemampuan siswa, maka potensi nalar dan emosinya dapat menghasilkan sebuah prestasi.

Jika saja sarana dan prasarana sulit untuk dipenuhi sesuai standar pembelajaran pada umumnya, maka pembelajaran di daerah 3T dapat mengoptimalkan alat bantu belajar yang tersedia di sekitar siswa. Mulai dari alat belajar yang ada di alam, yang setiap hari sudah akrab dan sering dilihat siswa maupun pemanfaatan alat- alat dari alam sebagai media belajar kreatif. Di sinilah dibutuhkan peran kuat hasil kerjasama antara siswa dan guru untuk menghasilkan sebuah proses belajar yang dinamis. Proses belajar dinamis tidak lagi menuntut guru sebagai subyek sentral pemberi ilmu; namun siswa juga harus diberi kesempatan untuk memahami materi oleh kesadarannya sendiri. Belakangan ini muncul istilah bahwa siswa tak lagi hanya sekedar murid, namun mulai disebut sebagai “pembelajar”, sehingga siswa merupakan subyek utama dalam proses belajar. Guru pun dapat belajar dari siswanya.

Oleh karena siswa adalah aktor utama dalam pembelajaran, maka siswa haruslah menyadari sepenuhnya bahwa belajar adalah proses yang menyenangkan dan asyik. Jika alam bawah sadar siswa sudah dapat menerima informasi seperti demikian, maka ia akan lebih mudah menangkap pesan yang disampaikan selama belajar. Proses belajar kreatif adalah salah satu hal yang dapat menstimulasi kesadaran tersebut. Selama belajar pun siswa harus aktif, guru adalah salah satu stimulator yang dapat membuat sebuah pembelajaran aktif. John Holt (1967) dalam buku “Active Learning” (Siberman, 1996) menyebutkan bahwa proses belajar akan semakin baik jika siswa diminta:
Mengungkapkan informasi dengan bahasa mereka sendiri
1. Memberikan contoh- contoh
2. Mengenalnya (materi belajar) dalam berbagai kondisi
3. Melihat hubungan antara satu fakta atau gagasan dengan yang lain
4. Menggunakannya dengan berbagai cara
5. Memperkirakan beberapa konsekuensinya
6. Mengungkapkan lawan atau kebalikannya.
Proses belajar aktif dan kreatif seperti di atas dapat membuat siswa merasakan bahwa dirinya adalah aktor penting. Kelak guru adalah fasilitator bagi siswa untuk memahami permasalahan dan pemecahan solusi dalam pembelajaran.

Meski demikian, perlu diingat lagi bahwa pembelajaran tak hanya terjadi antara siswa dan guru. Perlu adanya sinergi antara beberapa pihak seperti sekolah, pemerintah, orang tua dan masyarakat agar belajar dapat dihayati sebagai sebuah proses yang simultan dan berkelanjutan. Menciptakan masyarakat yang pembelajar adalah kunci dimana sebuah budaya harus dibangun agar siswa pun dapat didampingi oleh orang terdekatnya untuk proses belajar lanjutan sesudah dari sekolah. Pun masyarakat sekitar harus bersepakat untuk mengedepankan proses belajar dan pendidikan si anak. Pendidikan seyogyanya tak hanya tanggung jawab guru semata, melainkan kewajiban setiap orang yang terdidik.

Saturday, August 26, 2017

Sudahkah Pendidikan Kita Merdeka?

0


72 tahun Indonesia merdeka, namun seringkali kita mendengar bahwa sesungguhnya negeri kita tercinta ini belum sepenuhnya bebas dari belenggu penjajahan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia elektronik yang dirilis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, merdeka memiliki makna bebas dari perhambaan juga penjajahan, tidak bergantung pada orang atau pihak tertentu.

Tuesday, July 11, 2017

Thursday, June 29, 2017

Doa yang Sederhana

0

Jikalau memang doa memiliki batas, semoga saja kesadaranku adalah tembok yang cukup tangguh untuk terus meminta.
Seandainya dua memang harus tuntas, semoga saja itu tak pernah terjadi untukmu dan aku, ya, aku inginkan kita.
Kalau saja tanganku pernah letih terlipat saat syahdu memohon atasmu pada Sang Pencipta,
Semoga saja bibirku tak pernah henti memintamu, sama seperti ritual ratusan malam yang terdahulu.

Tuesday, June 6, 2017

Catatan Hati yang Malu- Malu

0

Bahwasanya benar bahwa kekaguman ini tak salah memilih orang. Hanya terkadang hati yang terlalu cepat memutuskan di pundak siapa ia akan rebah.
Maka untuk yang satu ini, kutahan ia sebisa mungkin untuk tetap ada di bilik kekaguman dahulu, memenuhi seluruh rongga dada. Sesak memang, ah tapi siapa rindu itu kalau kita belum pernah berkenalan secara nyata.

Wednesday, March 22, 2017

Perjalanan Panjang menjadi Pengajar Muda

0

Sungguh hati ini sudah tertambat sejak 2011 lalu saat ingin menjadi Pengajar Muda.
Saya lupa persisnya kenapa saya begitu tertarik, tapi saat itu saya membaca di koran nasional mengenai gerakan yang mengirimkan sarjana terbaik bangsa ke pelosok Indonesia. Mereka diberdayakan untuk mengajar di SD yang kekurangan tenaga pengajar sekaligus untuk menggerakkan masyarakat sekitarnya.
Saat itu saya belum ingin menjadi Pengajar Muda, sungguh mimpi itu seperti jauh bila ingin saya gapai. Saya merasa ini adalah sebuah program yang luar biasa, terlebih melihat semangat pengorbanan para Pengajar Muda saat itu.

Saturday, March 18, 2017

Catatan Seperempat Abad

0

Hari ini genap usia saya 25 tahun (padahal angkanya ganjil).
Dan saya merayakannya di salah satu pulau kecil Indonesia, gugusan kepulauan di Natuna.
Merayakan dalam hening, sepi, reflektif dan penuh mawas diri. Jauh dari keriuhan kota atau ramainya perayaan ulang tahun seperti pada umumnya. Biarlah, toh semakin tua kan kita semakin sering merayakan ulang tahun.

Thursday, March 9, 2017

Purnama Kedua: Mengecap Pendidikan Natuna

0

Melewati bulan kedua di Natuna sebagai seorang guru SD, saya sudah menemukan banyak hal menarik mengenai pendidikan di Natuna. Baiknya bila saya mulai dulu dari tugas keseharian saya di SDN 007 Setumuk. Menjadi Pengajar Muda di tahun kedua yang hadir di Natuna tentu bukanlah hal yang mudah bagi kami berdelapan. Meski tak menampik tugas ini sudah sangat terbantu oleh angkatan tahun pertama yang sudah menjadi perintis hadirnya Pengajar Muda di Natuna. Apalagi dengan 5 tahun berdirinya Indonesia Mengajar kala itu, beberapa pihak sudah mengetahui sepak terjang yayasan non profit ini sebelumnya sehingga Pengajar Muda XI, yang menjadi PM perintis di Natuna tidak terlalu sulit mengenalkan dirinya pada instansi atau pekerja di ranah pendidikan.
Selepas tugas, PM XI yang kemudian dilanjutkan oleh kami berdelapan sebagai PM XIII, selain menjalin komunikasi yang sudah berjalan baik sebelumnya dengan beberapa pihak, kami pun ingin mempertegas tugas dan fungsi hadirnya Pengajar Muda di kabupaten Natuna.

Tuesday, January 31, 2017

Sebulan Pertama: Wajah Masyarakat Natuna

2

Bila bicara mengenai sebuah tempat belumlah lengkap rasanya bila tidak membahas kondisi sosial budaya masyarakatnya. Pun ketika saya sedang bertugas di desa Setumuk ini. Hari pertama saya tiba di desa tanggal 2 Desember. Kala itu warga desa sedang sibuk mempersiapkan acara pisah sambut Pengajar Muda. Setiba di pelabuhan desa yang mungil ini, rupanya di pelabuhan sudah banyak orang menunggu. Mungkin mereka menanti seperti apa rupa wajah guru barunya. Tak heran karena sebelumnya guru mereka adalah laki- laki dan kini digantikan oleh guru perempuan.
Barang bawaan saya yang banyak itu langsung disambut oleh anak- anak SD, yang kini menjadi murid saya. Rumah tempat tinggal saya rupanya tak terlalu jauh dari pelabuhan. Kurang lebih 2-3 menit berjalan kaki saya telah tiba di rumah panggung yang ada di depan gedung serbaguna desa. Desanya pun tak terlalu ramai, kecil saja hanya satu jalur lurus dari pelabuhan ke sekolah hingga ujung desa. Kurang lebih 80 kk yang ada di Setumuk ini.

Tak ada penyambutan yang berlebihan, meski begitu mereka tetap menyambut dengan sapaan dan senyum terhangatnya. Saya begitu senang ketika pertama berbincang dengan ibu- ibu guru yang ada di rumah dan menyambut saya. Mereka ternyata bisa berbahasa Indonesia dengan lancar dan memang rata- rata masyarakat Natuna memang bisa berbahasa Indonesia. Sehari- hari menggunakan bahasa Melayu yang memang akar dari bahasa Indonesia rupanya cukup mempengaruhi kemampuan mereka berbahasa. Meski demikian di Setumuk menggunakan bahasa Melayu kampung yang jika didengar cukup berbeda dengan dialek bahasa Melayu pada umumnya. Mereka menyebut bahasa mereka dengan ‘bahasa Melayu kampung’, dialeknya jika didengar mirip dialek Thailand dan banyak kosakata yang berbeda dengan bahasa Melayu umum.
Selain bahasa, masyarakat Natuna rupanya amat terbuka dengan warga pendatang. Untuk di Setumuk sendiri memang tak terlalu banyak pendatang saat ini. Setidaknya ada saya, petugas paramedis yang menjaga puskesmas desa yang berasal dari Jawa Timur, ibu kepala sekolah saya yang dari Ponorogo dan ada beberapa warga lainnya yang juga pendatang namun sudah lama menetap di sini. Hal pertama yang mereka tanyakan tentang sepinya desa. “Bu, di sini sepi. Gimana bu apa betah sejauh ini?”, tanya mereka. Tentu saya betah. Bukan karena ramai atau sepinya desa. Tapi tentang bagaimana hari- hari saya berjalan di sini. Setidaknya akan selalu ada pemandangan indah yang disuguhkan di Setumuk, pun banyak warganya yang perduli pada saya jadi tentu saya tidak merasa kesepian. Terlebih ada anak- anak murid yang bisa saya ajak main kapan saja.

Keramahan warga pun begitu nyata saat saya terkadang berjalan- jalan keliling kampung. Dengan ditemani anak- anak, saya menemani mereka bermain atau sekadar menikmati sore. Setiap saya menyapa warga setidaknya akan ada yang menawari saya mampir ke rumahnya. Bahkan ada warga yang mengajak saya untuk menginap di rumahnya, sampai seminggu pun tak masalah katanya. Hal semacam inilah yang membuat saya merasa nyaman dan aman bila tinggal di sini. Keramahan warganya tak hanya sekadar basa- basi saja.

Pernah suatu ketika saat ada kenduri di rumah RW, ibu- ibu di sana berucap: “Bu Hanna, kalau ada yang kurang atau ada apa- apa bisa bilang ke kami. Kalau soal bikin kue kami bisa bu, tapi kalau ilmu mungkin bu Hanna yang bisa. Apapun yang ibu butuhkan, asal bukan soal ilmu kami bisa bantu bu”. Saling bantu- membantu, itulah yang mereka harapkan. Jadi bila kelak anak- anak Setumuk ini ada yang merantau ke Jakarta, mereka berharap saya pun dapat membantu mereka. Saya tentu senang begitu tahu kalau mereka pun punya cita- cita supaya anak mereka bisa merantau ke Jawa, atau bahkan ke Jakarta. Untuk kehidupan yang lebih baik, mengapa tidak?

Soal rantau merantau ini pun pernah menjadi pembicaraan hangat saya di majelis guru. Di desa Setumuk sendiri jumlah penduduknya hampir selalu sama dari tahun ke tahun. Tak terlalu banyak yang bertambah, entah karena kelahiran atau pindah menetap. Kalau dilihat pun memang orang- orang usia produktif tak terlalu banyak di Setumuk. Hal ini disinyalir karena memang tak ada lapangan kerja yang memadai di sini. Pekerjaan yang tersedia di Setumuk memang antara bekerja di kantor desa, sekolah SD atau TK, atau menjadi nelayan dan bertani cengkeh. Untuk 2 pekerjaan terakhir tadi memang jenis pekerjaan yang ada karena kondisi geografis. Hal tersebut bisa juga berarti ya pekerjaan tersebut dapat terhenti sementara waktu karena keadaan cuaca. Jadi biasanya orang muda di Setumuk memilih pindah jika sudah menikah, entah karena ikut pasangan atau mencari pekerjaan di tempat lain. Ini masih analisis sederhana kami para guru dari perbincangan sekilas kemarin. Saya pun mengamati memang akan selalu ada warga yang datang dan pergi tapi jumlah yang pergi sering kali lebih banyaj daripada warga yang datang menetap sehingga jumlah warga pun tak pernah naik demikian signifikan. Untuk jumlah murid SD pun turut berpengaruh dari jumlah penduduk Ini sendiri. Jumlah murid di SD kami pun hanya berkisar di angka hampir 50an saja, tak lebih. Tentu hal ini juga dikarenakan tak pernah ada jumlah penduduk datang dalam angka yang besar. Kalau ada pendatang baru, maka biasanya akan ada yang pindah juga. Ajaib ya? Tapi meski demikian dengan sedikitnya jumlah penduduk membuat desa kami masih terasa hangat dan kekeluargaan. Bila ada satu kabar berita apapun akan cepat menyebar dari ujung ke ujung. Desa Setumuk pun hanya punya 1 jalan besar di desa, jadi setiap yang datang akan selalu terlihat dari rumah ke rumah. Pusat kegiatan ataupun keramaian warga mudah dilihat di tengah- tengah desa.
Biasanya warga Setumuk suka berkumpul sore hari di lapangan voli. Entah mengobrol, main voli atau sepak takraw, menonton orang tanding voli. Atau ada pula anak- anak yang hobi bermain guli (kelereng) di tanah lapang kecil sebelah masjid.

Jadi demikian wajah masyarakat Natuna yang saya lihat dalam sebulan di sini. Meski tanpa gambar, semoga dapat mewakilkan dan memberikan sekilas gambaran melalui tulisan ini Semoga senyum hangat masih terus tersalur hingga hari terakhir saya ada di sini ya.

Sampai jumpa di tulisan tentang Natuna lainnya!

Cheers,
Hanna
*di poskan dari desa Setumuk*